<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?>
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
  <channel>
    <title>Resiliensi on </title>
    <link>https://kaban.my.id/tags/resiliensi/</link>
    <description>Recent content in Resiliensi on </description>
    <generator>Hugo -- gohugo.io</generator>
    <language>en</language>
    <lastBuildDate>Sat, 22 Aug 2026 12:00:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://kaban.my.id/tags/resiliensi/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml" />
    <item>
      <title>Belajar Memahami Diri Sendiri: Pikiran, Kemampuan, dan Ketahanan</title>
      <link>https://kaban.my.id/coretanku/belajar-memahami-diri-sendiri-pikiran-kemampuan-dan-ketahanan/</link>
      <pubDate>Sat, 22 Aug 2026 12:00:00 +0700</pubDate>
      
      <guid>https://kaban.my.id/coretanku/belajar-memahami-diri-sendiri-pikiran-kemampuan-dan-ketahanan/</guid>
      <description>Seberapa sering kita benar-benar meluangkan waktu untuk memikirkan pikiran, perilaku, keputusan, dan emosi kita sendiri?
Pertanyaan ini terlihat sederhana.
Semakin dipikirkan, semakin kita menyadari bahwa mungkin kita lebih sering sibuk memahami orang lain daripada memahami diri sendiri.
Kita mengetahui apa yang dilakukan orang lain.
Kita membaca pendapat orang lain.
Kita melihat keberhasilan orang lain.
Kita membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain.
Tetapi apakah kita benar-benar memahami diri sendiri?
Apa yang sebenarnya kita inginkan?</description>
    </item>
    
  </channel>
</rss>
